Autobiografie Dr. Khairul Saleh, S.ked, MM

Autobiografie Dr. Khairul Saleh, S.ked, MM

Namaku Adalah Khairul Saleh, dengan nama kecil, Endoi ya Endoi begitulah mereka memanggilku, Aku Lahir di Tanjung Medang, 7 Juli 1972, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten. Bengkalis, sebuah Desa nun terpecil di kala itu, jauh dari hiruk pikuk dunia, bahkan hanya terdengar deburan ombak yang bercengkerama dg pasir di pantai, sesekali desingan angin sepoi sepoi, ditemani lambaian nyiur dan suara burung berkicau riang, yg membuat hati ini damai dan tak mampu melupakan indahnya, goresan masa kecil di sebuah Desa yg bernama Tanjung Medang, Pulau Rupat, ya Pulau terpencil dan terluar di Selat Malaka, jalur Perdagangan Dunia yang hampir terlupakan di saat itu.

Aku anak terahir dari enam saudara, Kakak Pertamaku Bertugas di Bea dan Cukai, Sedangkan yang lain sebagai Pengusaha.Lahir dari seorang perempuan, yang membaktikan diri sebagai seorang Bidan, yang dikala itu Beliaulah satu satunya tenaga kesehatan di sana, tanpa gaji apalagi tanda jasa, mengikuti seorang Suami yang berprofesi sebagai Guru yg juga satu satunya, ya Kepala Sekolah , ya Guru ya juga admin ya juga penjaga sekolahnya, Ayahku seorang Guru Matematika, namun Beliaulah Guru Serbabisa sebab hanya ada satu sekolah dan satu guru di sana, jangankan tunjangan profesi, dana BOS atau tunjangan apa spt yg dituntut guru saat ini, bahkan gajipun harus di ambil ke Kabupaten bbrp bulan sekali dengan menumpang perahu Nelayan yg jarak perjalananya di tempuh ke Kota Dumai terlebih dahulu selama 12 jam lalu ke Pulau Bengkalis 12 jam selanjutnya atau bila ada perahu nelayan yg langsung ke Bengkalis selama satu hari satu malam jarak perjalanan, namun tidaklah membuat surut pengabdian Beliau sehingga Sebuah Satya Lencana disematkan Presiden RI di dadanya, Masyaa Allah.Semoga menjadi amal Soleh buat Ayah dan Ibunda tercinta. Ayah telah lama tiada sedangkan Sang Srikandi telah menginjak 91 tahun usianya.

Endoi kecil walau sebagai anak bungsu tidaklah dimanja, Aku berternak Kambing, Ayam dan Bercocok tanam sayur sayuran, dan singkong,kebetulan di belakang rumahku tersedia tanah yg luas untuk hal itu, disamping itu Aku juga membantu Ibuku berdagang, mengumpulkan hasil nelayan dan menjadi Kerani ( istilah juru tulis dan juru hitung ) di daerah kami, kehidupan telah menempaku sejak kecil dan Aku tumbuh menjadi pribadi yang sehat, kuat, ulet dan pantang menyerah, bersama dengan suksesnya Ibunda di dlm perdaganganya justru tdk membuatku lupa diri, uang pemberian org tuaku dan hasil dari ternak dll kutabung sebagai bekalku di kemudian hari.

Kedua org tua Kami sangat memperhatikan pendidikan, Kakak Kakakku mereka dikirim menuntut ilmu ke Bagan Si Api Api kota Ikan dan pelabuhan , Kota Dumai dan Kota Padang sedangkan Aku si anak Bungsu setia menemani Pengabdian org tuaku di sana. Aku tidak pernah membiarkan ibuku memgangkat sesuatu yg berat atau mengerjakan sesuatu dimana pasti Aku membantunya, sebagaimana anak anak lainya, Aku juga bermain dan kadang lupa waktu namun suara Ibuku begitu tertanam di benakku, bahkan hanya terdengar sekilas beliau menyebut namaku Endoi, Endoi maka Aku pasti berlari pulang dan meninggalkan semua permainan yg mengasyikan itu, sedari kecil Aku sudah terbiasa patuh dan Berbakti pada kedua org tuaku sebab Ridho Allah tergantung Ridho Orang Tuaku.

Sekolahku di desa, SD Negeri 02 Tg Medang, jarak dari rumah lebih kurang 5 KM dengan berjalan kaki,mengarungi Sungai dengan jembatan gantung papan selembar yg bergoyang dan menari nari membuat hati ini berdetak penuh rasa takut, Melewati Hutan Bakau yang lebat dan Perkebunan nan sepi dan mencekam terkadang Aku berlari ketakutan di tinggal teman temanku sebab aku paling kecil diantara mereka dan terkadang juga seru sambil hunting di hutan dengan sebilah golok bak si pendekar, sungguh sebuah pengalaman yg tak akan ada di masa anak anak saat ini.

Tibalah saatnya , Aku melanjutkan Sekolah Menengah Pertama, saat yg sangat berat, bercampur dan bergejolak di hati ini, antara takut dan tak ingin pisah dg Ibunda tercinta, namun Kedua org tuaku berkata ‘ Endoi jika engkau ingin Berhasil berangkatlah merantau Kami akan mendokanmu jika tidak ya tinggallah di sini dg Kami’ Kubulatkan tekad, Aku berangkat ke Dumai untuk melanjutkan Sekolah, ke SMPN 1 Dumai, hari pertama Aku di Sekolah cemooh dan ejekan anak kota yg kudapat , hey anak pulau, hey org akit ( suku asli tertinggal di pulau rupat kala itu ) dsbnya, memang tidak mudah bagiku, dimana aku berasal dari desa terpencil nun jauh di Selat Malaka sana, singkat cerita Semester Pertama ( red 6 bulan ) Aku memperoleh Peringkat 3 Juara Umum, sebuah prestasi yg membungkam ejekan teman temanku org kota tsb, semua itu Anugerah dari Allah Tuhanku Sang Maha Penyayang, Selanjutnya ,di kenaikan kelas Juara 1 Umum di Berkahi Allah buatku, Masyaa Allah semua berubah saat itu, anak Pulau terpencil entah dimana letaknya menorehkan tinta emas di sekolah itu, hingga selesai di sekolah menengah pertama predikat itu diberkahi Allah buatku dan Kupersembahkan buat Ibunda dan Ayahnda tercinta dan Desaku sebagai Lulusan Terbaik di saat itu,Alhamdulilah tdk sia sia pengobanan Orgtuaku.

Sekolah Menengahku, di SMA Negeri 2 Dumai, sebagai Anak desa hal yang sangat membanggakan bagiku sebab baru keluarga kamilah di desa itu yg mencapai jenjang pendidikan SMA, singkat cerita 6 Semester selalu Aku memperoleh Predikat terbaik di bidang Akademis, Menulis Puisi, Baca Puisi, Menulis Prosa, Berpidato semua itu Hobbyku, namun apakah Aku hanya menjadi Kutu Buku, ternyata tidak, Aku sama dengan anak anak yg lainnya, Bermain, Cabut ( bolos ) , balap balapan motor, juga menyertai hidupku namun hal yg sangat kuingat, sholat, taat pada kedua org tua, tahajud tidak pernah berpisah dariku, Masyaa Allah anugerah yg luar biasa buatku dari Sang Maha Penyayang.

Di SMA, Aku lulus di 3 Universitas sebagai hasil dari PBUD Pemilihan Bibit Unggul Daerah, Institut Pertanian Bogor ( IPB ) Fakultas Kehutanan, Universitas Diponegoro ( Undip ) Fakultas Tekhnik Industri, dan Unversitas Gadjah Mada ( UGM ) Fakultas Kedokteran Umum. Ayahku ingin Aku menjadi Seorang Perwira ABRI namun Ibuku ingin Aku menjadi Seorang Dokter, setelah kami bermusyawarah, keinginan
ibunda tercinta didahulukan, Akupun melanjutkan studyku di Kedokteran Umum UGM, di Jogjakarta, tak banyak masalah yg kuhadapi di kuliah dan alhamdulilah secara ekonomi kedua Org tuaku sdh mapan dan lebih ringan sebab kakak kakakku semua sdh bekerja dan berbisnis, namun yg paling menggelitik dan hal yg tak terlupakan dalam hidupku, di kala aku mendatangi rumah salah satu Guru Besarku bidang Ekologi seorang Profesor yang antik ha ha ha, Ku ketok rumahnya dengan rasa takut dan hati hati, namun tetap kuberanikan diri ,sebab telah tersiar berita akan keangkeran Sang Profesor, ternyata benar, Sang Profesor bukannya membukakan pintu buatku ,mempersilakan masuk atau disuguhi minuman yang menyegarkan atau ajakan makan siang seperti yang selalu didambakan anak kos umumnya, namun Beliau hanya melihat dari jendela lantai 2 rumahnya, dan berkata ‘ ada apa?’ Waduh betul juga kata senior seniorku, Akupun memperkenalkan diri, yg jelas bukan sebagai Si Endoi anak petualang tapi sebagai Mahasiswa yang ingin mendapat kejelasan nilai Mata Kuliah Ecologyku, tanpa tanya lebih lanjut Beliau seraya berkata’ ambil lagi tahun depan’ dan klepak menutup Jendelanya, wk wk wk Akupun tanpa pikir panjang, menjawab Iya Prof dan langsung tancap gas tanpa menoleh ke belakang lagi, celaka kata senior seniorku, kamu tdk akan lulus dg beliau dan betul tahun depannya Aku ketemu lagi di mata kuliah Sang Profesor, Aku berharap Beliau lupa denganku namun ternyata Beliau ingat dan berkata” Kamu kan yg datang ke rumahku’ , selama ujian Beliau berdiri disampingku, dengan wajah dingin dan serasa membeku, sambil melipatkan tangan ke belakang, ujianpun berahir dan di saat penguman nilai di tempelkan ternyata, Aku kaget bukan kepalang, Beliau memberikanku Nilai ‘ A ‘ alhamdulilah mungkin karena keunikanku dan juga keunikan Beliau mendapatkan Chemistry yang sama, Jangan pernah berprasangka jelek itulah pelajarannya buatku.

Ahirnya Aku lulus tepat waktu, dan Ayahndaku berkata keinginan Ibumu sudah terpenuhi, Aku sangat mengerti maksud Beliau, Akupun mendaftarkan diri ke Akademi Militer untuk mengikuti tes Sekolah Perwira Karir, dan Alhamdulilah Aku lulus dan alangkah bahagia dan bangganya Ayah bundaku. Masya Allah Aku bisa membahagiakan keduanya. Pengemblengan Kawah Chandradimuka di Akedemi Militer telah dimulai, penuh lelah yang tak terkira, panas, dingin, basah, lumpur, lapar, dahaga, luka, darah dan air mata, bahkan lebih dari itu yang tidak mungkin aku ceritakan satu persatu, biarlah iya menjadi sebuah Rahasia dan Kenangan yg takan pernah terlupakan , bagian dari Mengabdikan diri bagi NKRI dan Aku Sangat Bangga mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari Sekolah Terbaik Bangsa Indonesia, tidak semua org punya kesempatan untuk di gembleng di Kawah Chndaradimuka tsb, ahirnya saat yg di tunggu tunggu telah tiba, Badai pasti berlalu, Aku dilantik Sebagai seorang Perwira Militer dengan Pangkat Letnan Dua, tanda Pangkat disematkan di bahuku, SK pengangkatan Atas Nama Presiden Republik Indonesia ditorehkan atas nama seorang Anak Desa sangat terpencil nun jauh disana bahkan namaku tertoreh di Gedung Resimen Chandradimuka, Akedemi Militer, Magelang, lengkaplah sudah gelarku Letda Dr. Khairul Saleh, S.Ked gelar yg belum pernah ada di daerahku, dan paripurna juga keinginan kedua orang tuaku, masyaa Allah Alhamdulilah atas semua karunia Mu, Aku bisa memenuhi keinginan dan membahagia Ayah Bundaku.

Berbagai Tugas kuemban bahkan Tugas Operasi Militer bagi menjaga keutuhan NKRI ku laksanakan dengan desingan peluru dan bom yang menggelegar , tanpa tunjangan, tanpa Kasur apalagi AC , yang ada adalah kata ‘ SIAP ‘ dan Kami Prajurit yg tidak pernah mengeluh apalagi minta di katakan Pahlawan atau Petugas Garda terdepan dan sekolah Kemiliteran lanjutan mulai kulalui, berkali kali Aku berhasil meraih sebagai Lulusan Terbaik di Sekolah Benteng Negara tsb, dan Selanjutnya Aku diminta sekali lagi Berbakti bagi NKRI dalam bentuk yang berbeda, Ambil alih CPP Block Caltex ( Coastal Plain Pekanbaru ) ke Perusahaan Negara, penuh gejolak masyarakat namun Aku ditugaskan Komandanku untuk meredamnya dengan bijak dan lewat pendekatan yg merakyat, kubuat berbagai program dan aku langsung memimpin turun ke lapangan merangkul rakyat sebagai Stakeholder disana, Alhamdulilah Tugas berhasil dan tiada gejolak.

Aku ditugaskan sbg Chief Medical Officer disana, namun Pimpinanku Pak Karsani Aulia, seorang Geolog kenamaan ITB dan School of Mine USA, berkata kepadaku, Khairul maukah setiap pagi datang ke ruanganku, tentu aku sangat ingin dan tak mungkin menolaknya, rupanya Sang Begawan Minyak menurunkan ilmunya buatku, aku mulai menuntut ilmu Mangemen Minyak dari Beliau dan tentu dari senior senior perminyakan lainnya, selanjutnya Beliau mengirimku melanjutkan Sekolah Magister Managemen di Universitas Brawijaya, 2 tahun aku di beri kesempatan namun 11 bulan kutuntaskan Thesisku, Predikat Cum Laude Allah memberkahi buatku, selanjutnya aku dberi kesempatan di Mahato Block sebagai Kepala Lapangan, seterusnya sbg Staf Khusus Direksi, alih kelola Pertamina Conoco Philip Algeria, aku banyak belajar di sini, di gembleng oleh Geolog Pak Eko Rukmono yg santun, Pak Djoko Imanhardjo yg Tegas, Pak Huddie Dewanto dan Pak Teddy Sang Begawan Keuangan Perminyakan, dan selanjutnya Aku di tempatkan di holding Pertamina Internasional EP, dibawah gemblengan Sang Mahaguru Pak Slamet Riyadi yg sudah tidak diragukan lagi ilmu dan pengalaman go Internationalnya, Sang Kopassus kami memanggilnya, yang tidak pernah kenal lelah dan menyerah, yang telah memberikan Aku kesempatan Sebagai Vice President, Bravo Bapak memang tdk ada sesuatu yg di peroleh tanpa pengorbanan dan perjuangan, Aku akan terus Berjuang, Insyaa Allah, Bismillah.

dr.santi
Author: dr.santi

0 Komentar